PEMBUATAN PETA KESESUAIAN PERMUKIMAN BERBASIS GEOLOGI DI ARCGIS

Leave a Comment
Assalamualaikum Wr.Wb


Pertambahan penduduk mengakibatkan permintaan akan tempat tinggal sangat tinggi. Permintaan tempat tinggal (permukiman) di berbagai daerah khususnya perkotaan tergolong banyak karena terus meningkatnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun dan diiringi oleh terus meningkatnya sarana dan fasilitas transportasi. Pemilihan tempat tinggal (permukiman) yang tepat mempunyai arti penting dalam aspek keruangan, karena ini akan menentukan keawetan bangunan, nilai ekonomis dan dampak permukiman terhadap lingkungan di sekitarnya (Sutikno,1982). Dalam penentuan lokasi permukiman perlu adanya evaluasi medan, guna mengetahui apakah parameter-parameter untuk lokasi permukiman yang aman dan layak digunakan bagi suatu lahan.
Dalam menentukan suatu lahan untuk permukiman, masyarakat pada umumnya karena keterbatasan ilmu pengetahuan sering tidak mempertimbangkan parameter-parameter fisik dasar yang mempengaruhi kelayakan untuk permukiman dalam jangka panjang. Parameter-parameter yang berpengaruh dalam jangka panjang untuk permukiman diantaranya adalah parameter geologi, seperti kondisi morfologi, jenis tanah, hidrogeologi, litologi, kawasan rawan gerakan tanah dan kawasan rawan gempabumi.
Karena semua parameter-parameter geologi tersebut sangat berpengaruh terhadap kelayakan permukiman sebagai tempat hunian yang nyaman, aman dan sehat dalam jangka panjang bagi kelangsungan hidup para penghuninya.
Atas dasar alasan di atas maka di sini blog INFO-GEOSPASIAL akan coba membuat peta tingkat kesesuaian lahan untuk permukiman berbasis geologi, dengan maksud dan tujuan yaitu sebagai berikut : 
  1. Untuk mendapatkan informasi kondisi umum daerah penyelidikan yang mencakup tataguna lahan dan geologi  
  2. Untuk mendeskripsikan kondisi geologi daerah penyelidikan dan mendapatkan nilai tingkat kesesuaian lahan untuk lokasi permukiman dengan melakukan klasifikasi / penggolongan dengan memberikan skor dan bobot berdasarkan faktor pendukung dan pembatas untuk permukiman.
  3. Untuk mengetahui penyebaran tingkat kesesuaian lahan untuk permukiman berbasis geologi di daerah penyelidikan.
Adapun lokasi yang menjadi penelitian pada tulisan ini adalah Kecamatan Ciamis yang masuk ke dalam wilayah administrasi Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Secara geografis berada pada 7°21’35” LS - 7°17’37” LS dan 108°17’24” BT - 108°22’50” BT. Dengan Luas wilayah ± 3385 Ha.
Proses pembuatan peta akan menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif yang mana proses pengerjaannya yaitu dengan cara menguraikan dan memberikan gambaran mengenai parameter-parameter objek penyelidikan serta memberikan harkat (skor) pada setiap parameter dan memberikan bobot penimbangan pada masing-masing parameter yang besarnya sesuai dengan pengaruhnya terhadap kesesuaian lahan untuk permukiman.
Parameter yang digunakan dalam metode ini terdiri dari parameter-parameter yang memiliki subkelas sehingga masing-masing memiliki pengaruh dalam analisis tumpang tindih (overlay) dalam tahapan penyusunan peta tingkat kesesuaian lahan untuk permukiman berbasis geologi. Terdapat 5 parameter yang akan digunakan yaitu :
  1. Peta Morfologi
  2. Peta Morfologi Kecamatan Ciamis
    Peta Morfologi Kecamatan Ciamis
    Peta morfologi dibuat dari hasil pengamatan morfologi yang dilakukan dengan mengelompokan daerah penyelidikan berdasarkan kemiringan lereng, yaitu dengan mengelompokan garis kontur yang berpola relatif sama pada peta topografi, kemudian ditarik garis tegak lurus kontur dan dihitung kemiringan lerengnya dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
     Rumus Hitung Kemiringan Lereng
    Keterangan :
    S  =  kemiringan lereng (%)
    n  =  jumlah kontur yang terpotong
    Ic =  interval kontur (meter)
    d  =  jarak sebenarnya (meter)
    Berdasarkan besarnya kemiringan lereng pada suatu daerah, maka kemiringan lereng diklasifikasikan oleh para ahli, salah satunya klasifikasi Kemiringan Lereng menurut Van Zuidam, 1983. yaitu sebagai berikut :
    Tabel Klasifikasi Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1983)
    Klasifikasi Kemiringan Lereng (Van Zuidam, 1983)
    Dari hasil pengamatan di lapangan dan interpretasi peta topografi dari kerapatan gari kontur dan ketinggian, maka klasifikasi kemiringan lereng di daerah penyelidikan dibagi menjadi 4 kelas satuan morfologi seperti yang tergambar pada peta di atas.
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Morfologi digambarkan pada gambar tabel berikut :
    Pemberian skor dan bobot pada parameter morfologi di daerah penyelidikan.
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Morfologi di daerah penyelidikan. 
  3. Peta Jenis Tanah
  4. Peta Jenis Tanah Kecamatan Ciamis
    Peta Jenis Tanah Kecamatan Ciamis
    Peta Jenis Tanah dibuat berdasarkan hasil interpolasi dari data survey lapangan terhadap jenis tanah yang ditemukan di setiap Kelurahan dan Desa di daerah penyelidikan, maka jenis tanah di daerah penyelidikan dibagi menjadi 5 jenis tanah yang diukur berdasarkan tingkat kekuatan tanah geologi teknik, jenis tanah dari paling kuat sampai kurang kuat untuk pondasi bangunan di daerah penyelidikan terdiri dari pasir kerikilan, pasir, pasir lempung kerakalan, pasir lempungan dan lempung pasiran. 
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Jenis Tanah digambarkan pada gambar tabel berikut :
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Jenis Tanah di daerah penyelidikan.
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Jenis Tanah di daerah penyelidikan.
  5. Peta Air Tanah
  6. Peta Air Tanah Kecamatan Ciamis
    Peta Air Tanah Kecamatan Ciamis
    Ketersediaan Air Tanah pada suatu lahan merupakan hal yang sangat penting, mengingat fungsi Air Tanah sebagai sumber pasokan air bersih untuk berbagai kebutuhan, terutama di saat kemarau panjang dimana air permukaan tidak mencukupi. Bertolak dari hal tersebut, maka analisis kesesuaian lahan untuk permukiman berbasis geologi ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui kemampuan lahan dalam menunjang ketersediaan Air Tanah.
    Berdasarkan hasil interpolasi dari data survei lapangan terhadap sumur-sumur gali penduduk di setiap kelurahan dan desa di daerah penyelidikan, maka daerah penyelidikan di klasifikasikan menjadi 3 tingkat kedalaman dalam mendapatkan air tanah bebas, yaitu daerah air tanah dangkal dengan kedalaman permukaan air tanah 0,5 – 4,466 m, daerah air tanah sedang dengan kedalaman permukaan air tanah 4,5 – 8,466 m dan daerah air tanah dalam dengan kedalaman permukaan air tanah 8,5 – 12,4 m dari permukaan tanah setempat.
    Pambagian tingkat klasifikasi kedalaman air tanah ini ditinjau dari aspek penekanan biaya untuk penggalian atau pemboran air tanahnya, maka berdasarkan hal tersebut, air tanah dangkal dengan kedalaman permukaan air tanah 0,5 – 4,466 m dapat lebih menekan pengeluaran biaya, dari pada air tanah sedang dengan kedalaman permukaan air tanah 4,5 – 8,466 m dan air tanah dalam dengan kedalaman permukaan air tanah 8,5 – 12,4 m.
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Air Tanah digambarkan pada gambar tabel berikut :
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Air Tanah di daerah penyelidikan.
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Air Tanah di daerah penyelidikan.
  7. Peta Geologi
  8. Peta Geologi Kecamatan Ciamis
    Peta Geologi Kecamatan Ciamis
    Berdasarkan sebagian Peta Geologi lembar Tasikmalaya 1308-4 (T. Budhitrisna, 1986), litologi daerah penyelidikan disusun oleh batuan Quarter dengan sebaran ± 100% (± 3385 ha) yang memanjang dari barat laut sampai tenggara. Batuan Quarter di daerah penyelidikan terdiri dari 2 formasi batuan dengan urutan stratigrafinya dari muda ke tua yaitu sebagai berikut :
    Stratigrafi daerah penyelidikan di Kabupaten Ciamis
    Stratigrafi daerah penyelidikan di Kabupaten Ciamis
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Geologi digambarkan pada gambar tabel berikut :
      Pemberian skor dan bobot pada parameter Geologi di daerah penyelidikan.
      Pemberian skor dan bobot pada parameter Geologi di daerah penyelidikan.
  9. Peta Rawan Gerakan Tanah
  10. Peta Rawan Gerakan Tanah Kecamatan Ciamis
    Peta Rawan Gerakan Tanah Kecamatan Ciamis
    Berdasarkan Peta Kawasan Rawan Gerakan Tanah Kecamatan Ciamis (Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral), Kecamatan Ciamis memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah tinggi, menengah, rendah sampai sangat rendah.
    - Zona Kerentanan Gerakan Tanah Sangat Rendah : Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan sangat rendah untuk terkena gerakan tanah. Pada zona ini jarang atau hampir tidak pernah terjadi gerakan tanah, baik gerakan tanah lama maupun gerakan tanah baru, kecuali pada daerah tidak luas pada tebing sungai. Merupakan daerah datar sampai landai dengan kemiringan lereng lebih kecil dari 15% dan lereng tidak dibentuk oleh endapan gerakan tanah, bahan timbunan atau lempung yang bersifat plastis atau mengembang. Luas zona kerentanan gerakan tanah sangat rendah ini menempati ± 63,42% (± 2147 ha) dari keseluruhan luas daerah penyelidikan. 
    - Zona Kerentanan Gerakan Tanah Rendah Daerah : Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan rendah untuk terkena gerakan tanah. Umumnya pada zona ini jarang terjadi gerakan tanah jika tidak mengalami gangguan pada lereng, dan jika terdapat gerakan tanah lama, lereng telah mantap kembali. Gerakan tanah berdimensi kecil mungkin dapat terjadi, terutama pada tebing lembah (alur) sungai. Kisaran kemiringan lereng mulai dari landai ( 5 - 15%) sampai sangat terjal (50 - 70%), tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah pembentuk lereng. Pada lereng terjal umumnya dibentuk oleh tanah pelapukan yang tipis dan vegetasi penutup baik, umumnya berupa hutan atau perkebunan. Luas zona kerentanan gerakan tanah rendah ini menempati ± 17,96% (± 608 ha) dari keseluruhan luas daerah penyelidikan.
    - Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah : Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan menengah untuk terkena gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Gerakan tanah lama dapat aktif kembali akibat curah hujan yang tinggi dan erosi kuat. Kisaran kemiringan lereng mulai dari landai (5 - 15%) sampai curam hingga hampir tegak (>70%), tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah pelapukan pembentuk lereng. Kondisi vegetasi penutup umumnya kurang sampai sangat jarang. Luas zona kerentanan gerakan tanah menengah ini menempati ± 15,45% (± 523 ha) dari keseluruhan luas daerah penyelidikan.
    - Zona Kerentanan Gerakan Tanah Tinggi : Daerah yang mempunyai tingkat kerentanan tinggi untuk terkena gerakan tanah. Pada zona sering terjadi gerakan tanah, sedangkan gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak, akibat curah hujan yang tinggi dan erosi yang kuat. Kisaran kemiringan lereng mulai dari agak terjal (30 ~ 50%) hingga hampir tegak (> 70%) tergantung pada kondisi sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah pelapukan pembentuk lereng. Kondisi vegetasi penutup umumnya sangat kurang. Luas zona kerentanan gerakan tanah tinggi ini menempati ± 3,13% (± 106 ha) dari keseluruhan luas daerah penyelidikan.
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Rawan Gerakan Tanah digambarkan pada gambar tabel berikut :
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Rawan Gerakan Tanah di daerah penyelidikan.
    Pemberian skor dan bobot pada parameter Rawan Gerakan Tanah di daerah penyelidikan.

Setelah mengetahui parameter yang akan di gunakan, selanjutnya melakukan proses overlay peta dengan menggunakan aplikasi ArcMap (ArcGIS) untuk menghasilkan peta kesesuaian pemukiman berbasis Geologi.
Buka semua layer peta (SHP) yang dijadikan parameter ke dalam ArcMap. Pastikan semua layer sudah memiliki field (keterangan, skor, dan bobot) dimana field keterangan di isi dengan nama dari setiap subkelas parameter dan field skor di isi dengan skor yang sudah ditentukan seperti pada keterangan di atas. Kosongkan pada bagian field bobot (akan di isi setelah proses overlay).
Pastikan field skor dan bobot dibuat dengan type integer !! Dan pastikan setiap layer peta yang akan di overlay memiliki luas yang sama, agar tidak ada error topology. Hal tersebut di maksudkan agar hasil overlay mendekati sempurna. (Baca artikel ERROR TOPOLOGY untuk lebih memahami mengenai error topology).
Untuk mengoverlay seluruh layer peta, gunakan tool Union yang ada di dalam menu Geoporcessing atau di dalam ArcToolbox > Analysis Tools > Overlay > Union.
List layer peta yang akan di overlay di dalam jendel Union
List layer peta yang akan di overlay di dalam jendel Union
Setelah proses union berhasil, maka akan menghasilkan layer baru yang merupakan gabungan dari semua layer peta sebelumnya. Pada bagian attribute table layer tersebut kurang lebih akan seperti gambar berikut :

Tabel layer hasil union/overlay
Tabel layer hasil union/overlay
Karena sebelumnya pada field bobot di semua layer peta tidak di isi/di kosongkan. Maka di sini lakukan pengisian pada field tersebut dengan isian berupa perkalian field skor di kali (x) bobot dari setiap parameter. (misal pengisian field bobot air tanah : field skor air tanah * 5) dimana nilai lima (5) merupakan bobot dari parameter air tanah. Lakukan hal tersebut untuk semua field bobot di setiap parameter.
Setelah semua field bobot parameter telah di isi, selanjutnya buat field baru dengan nama bobot_total kemudian lakukan penjumlahan (+) semua field bobot parameter untuk mengisi field bobot_total tersebut.
Sebelum melanjutkan, kita harus ketahui terlebih dahulu banyaknya kelas yang terbentuk dan interval kelas kesesuaian lahan untuk permukiman berbasis geologi ini. Perhitungan untuk mendapatkan jumlah kelas kesesuaian lahan permukiman adalah dengan cara mengalikan jumlah peta tematik dengan menggunakan rumus Sturges dalam Sudjana (1988: 19), seperti berikut :
rumus sturges

Keterangan :
K = banyaknya kelas terbentuk
N = satuan peta yang dioverlaykan
Satuan peta yang dioverlaykan dalam pengklasifikasian tingkat kesesuaian lahan untuk permukiman di daerah penyelidikan ada 5 peta. Maka berdasarkan rumus sturges perhitungannya adalah sebagai berikut :
K = 1+3,322 log N
K = 1+3,322 log 5
K = 1+3,322 x 0,698
K = 3,016 dibulatkan menjadi 3.
Dari hasil penjumlahan bobot di pada layer yang sudah di overlay, didapatkan nilai maksimum 78 dan nilai minimum 41. Yang kemudian dari hasil tersebut dilakukan perhitungan untuk menentukan interval kelas dengan menggunakan rumus berikut : 
Rumus menentukan kelas interval
Keterangan : 
Range = total bobot maksimum – total bobot minimum 
K        = banyaknya kelas 
Maka perhitungan dari rumus metode ini berdasarkan data-data diatas adalah sebagai berikut :
IK = Range/K
IK = skor minimum-skor maksimum/banyaknya kelas
IK = 78-41/3
IK = 37/3
IK = 12,333
Dari perhitungan tersebut maka didapat interval kelas kesesuaian lahan yang berjarak 12.
Kembali ke hasil penjumlahan bobot setiap parameter. Buat field baru untuk menyimpan nama kelas interval, kemudian isikan setiap record berdasarkan interval kelas seperti berikut :
Kelas dan Interval Kelas kesesuaian lahan untuk permukiman berbasis geologi
Kelas dan Interval Kelas kesesuaian lahan untuk permukiman berbasis geologi
Hasil akhir dari proses di atas akan menghasilkan peta kesesuaian permukiman berbasis geologi seperti berikut :
Peta Kesesuaian Permukiman berbasis Geologi Kecamatan Ciamis
Peta Kesesuaian Permukiman berbasis Geologi Kecamatan Ciamis
Proses overlay di atas dapat di lihat juga pada video berikut :
Untuk hasil yang lebih baik, dapat ditambahkan parameter lain seperti peta rawan gempa bumi, hidrogeologi, dan peta parameter lainnya yang dapat membantu dalam menghasilkan informasi kesesuaian permukiman yang lebih mendekati akurat.
Diharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca jika tulisan ini dirasa terdapat kesalahan atau ada yang perlu di koreksi.

Wassalamualaikum Wr.Wb

0 komentar:

Post a Comment