KONEKSI POSTGRESQL KE GEOSERVER

Assalamualaikum Wr.Wb

Artikel ini dibuat sebagai tahap lanjutan pengenalan sebelum masuk ke dalam proses pembuatan WebGIS. Sebelumnya INFO-GEOSPASIAL pernah membahas dan membuat atikel yang saling berkaitan dengan artikel ini, diantaranya :
Ketiga komponen yang disebutkan pada artikel tersebut akan berperan penting dalam proses pembuatan WebGIS yang akan dibahas. Pada artikel ini akan menjelaskan bagaimana cara mengkoneksikan Database pada PostgreSQL ke GeoServer. Dalam asumsi bahwa isi di dalam database adalah objek geometrik berupa file .SHP (shapefile). Proses menginput file .SHP ke Database di PostgreSQL bisa di lihat di artikel Pengertian PostgreSQL.
Mulai proses koneksi dengan menjalankan PgAdmin III pada PostgreSQL, login ke server dengan menggunakan password yang sudah ditentukan sebelumnya. Dalam bahasan ini database yang digunakan adalah Indonesia, input file .SHP ke dalam database tersebut (nama db bisa disesuaikan dan isi file juga bisa di sesuaikan dengan data yang dimiliki). 
Proses input file .SHP harus menggunakan plugin PostGIS. Jalankan plugin PostGIS di dalam database Indonesia, kemudian lakukan koneksi ke database tersebut dengan isian sebagai berikut :
Koneksi PostGIS ke database Indonesia
Koneksi PostGIS ke database Indonesia
  • Username : postgres
  • Password : (isi dengan password yang sama pada saat masuk ke server di PostgreSQL)
  • Server Host : localhost
  • Port : Isi dengan port yang digunakan (yang telah ditentukan pada saat instalasi PostgreSQL), secara default portnya adalah : 5432, namun dalam contoh ini port yang digunakan adalah 3610.
  • Database : isi dengan nama database yang akan dikoneksikan
Jika berhasil maka akan muncul pemberitahuna di bagian log windows. Selanjutnya pada bagian Import panggil file .SHP, dalam contoh ini digunakan indo_provinces (sebagai bahan latihan bisa unduh data SHP di artikel berikut : Data SHP Seluruh Indonesia).
Pada file SHP yang telah panggil, bagian SRID isi dengan : 4326 (dimaksudkan untuk memeberitahui sistem bahwa data tersebut menggunakan sistem projeksi geografis longitude/latitude dengan datum WGS 84). Jika file shp berisikan objek yang terpisah untuk setiap objeknya, misal provinsi bali terdiri dari pulau bali dan beberapa pulau kecil lainnya (tidak bergabung/tidak digabung menjadi satu objek tunggal) maka itu dapat dilakukan setingan pada bagian Option dengan menselect Generate simple geometries instead of MULTI geometries.
Maksudnya agar file tersebut dirubah kedalam bentuk Single Geometric, sehingga ketika database tersebut dikoneksikan ke aplikasi GIS (QGIS, ArcGIS, dll), file tersebut dapat dilakukan editing seperti menambah objek baru.
Jika objek pada file SHP tersebut berisikan objek terpisah namun sudah dalam bentuk Multi Geometric (sudah di combine/merge) maka tidak dapat dirubah ke dalam bentuk Single Geometric, namun file tersebut masih bisa diedit di dalam aplikasi GIS (jika proses editing dilakukan dengan mengkoneksikan database ke aplikasi GIS) hanya saja tidak bisa menambahkan objek baru, hanya bisa mengedit node dan vertex dari objek di dalamnya.
Jadi untuk mengatasi hal tersebut, sebelum dimasukan ke database, lakukan edit ulang pada file SHP dengan menggunakan aplikasi GIS, dan pastikan tidak ada objek yang digabungkan untuk setiap objek yang terpisah. Di aplikasi ArcGIS bisa menggunakan fungsi Multipart to Singlepart, atau di  aplikasi MapInfo bisa menggunakan Disaggregate.
Select Single Part
Mengatur file ke dalam bentuk Single geometric
Untuk file yang sudah Multi Geometric, maka ketika di import akan gagal seperti gambar berikut :
Gagal Import
File berbentuk Multi Geometric gagal di Import
Dan untuk file yang berada dalam bentuk single geometric, ketika di import maka akan berhasil, seperti gambar berikut :
File berbentuk geometrik sederhana berhasil di import
File berbentuk Single Geometric berhasil di import
Setelah proses import SHP ke database berhasil dilakukan, tabel SHP tersebut dapat dilihat di pilihan database Indonesia > Schemas > Public > Tables, kemudain pilih nama tabel dari SHP tersebut, gunakan tools table yang ada pada toolbox.
tabel SHP Indo_Provinces
Tabel SHP Indo_Provinces di PostgreSQL
berikutnya adalah koneksi database tersebut ke GeoServer. Jalankan program GeoServer, Login dengan username dan password yang sudah ditentukan. Kemudian buat Workspace baru dengan nama Indonesia.
Buat Workspace Indonesia
Buat Workspace Indonesia
Kemudian masuk ke menu Stores, tambahkan store baru, pilih PostGIS kemudian berikan setingan sebagai berikut :
setting koneksi ke database
Setting Koneksi ke database Indonesia di PostgreSQL dengan bantuan PostGIS
  • Workspace : Indonesia
  • Data Source Name : (isi sesuai dengan nama yang di inginkan)
  • Description : (Isi dengan deskripsi yang di inginkan)
  • Dbtype : postgis
  • Host : localhost
  • Port : (isi dengan port yang digunakan pada PostgreSQL)
  • Database : nama database yang akan di koneksikan
  • Schame : Public
  • User : postgres
  • Password : (isi dengan password untuk masuk ke server PostgreSQL)
Atur setingan diatas sesuai dengan database yang akan di koneksikan, jika berhasil maka akan muncul daftar layer yang berada pada database yang berhasil di koneksikan.
daftar layer yang berada pada database
Daftar layer yang berada pada database
Dari daftar layer yang muncul (layer indo_provinces), klik publish. Kemudian atur settingan sebagai berikut :
SETTING LAYER INDO PROVINSI
Setting Layer Indo_Provinces
  • Name : (isi dengan nama dari layer tersebut)
  • Title : (judul layer)
  • Abstract :  (deskripsi dari layer)
  • Native SRS dan Declare SRS : otomatis terisi dengan EPSG:4326, karna sebelumnya sudah di atur pada saat import SHP ke database dengan mengisi kode EPSG tersebut di bagian SRID (bisa diatur sendiri bila sistem projeksi yang digunakan berbeda)
  • Bounding Boxes : klik link Compute from data dan Compute from native bounds untuk menampilkan batas koordianat dari layer tersebut.
  • Feature Type Details : periksa kembali nama kolom dan type dari tabel layer tersebut, jika sudah melakukan perubahan pada isi kolom/kolom klik reload feature type untuk merefresh daftar tabel.
Selanjutnya mencoba menampilkan data SHP tersebut, caranya pada menu Layer Preview cari layer Indo_Provinces,
Layer Indo_Provinces
Layer Indo_Provinces
Tampilkan ke dalam OpenLayer, maka hasilnya akan seperti berikut :
Layer Indo_Provinces di dalam tampilan OpenLayer
Layer Indo_Provinces di dalam tampilan OpenLayer
Selanjunya coba tampilkan ke dalam format GeoJSON, karna format data ini yang nanti akan di panggil ke dalam halaman WebGIS untuk proses pembuatan WebGIS yang akan dibahan pada artikel yang akan datang.
Layer Indo_Provinces di dalam tampilan GeoJSON
Layer Indo_Provinces di dalam tampilan GeoJSON
Sekian artikel tetang cara koneksi database di PostgreSQL ke GeoServer. Tutorial selanjutnya akan langsung membahas proses pembuatan WebGIS dengan menggunakan komponen-komponen yang sudah dijelaskan pada beberapan artikel sebelumnya.
Semoga Bermanfaat  . . .

Wassalamualaikum Wr.Wb

VISUALISASI 3D GOOGLE IMAGERY DENGAN EFEK EXTRUDE DI ARCSCANE

Assalamualaikum Wr.Wb

Pada kesempatan ini, blog INFO-GEOSPASIAL akan membagikan tutorial cara membuat peta 3D dengan efek Extrude di ArcScane, tutorial ini merupakan kelanjutan dari tutorial ArcScane yang sudah pernah di bahas sebelumnya :
Sebelum memulai tahap pembuatan peta 3D, diperlukan bahan-bahan sebagai berikut :
  1. Image google satelit dari daerah yang akan dibuat petanya (harus sudah tergeoreferencing), cara melakukan georeferencing image dari google satelite bisa di lihat di artikel GEOREFERENCING GOOGLE IMAGERY IN ARCGIS
  2. Data kontur dari daerah yang dimaksud (bisa buat sendiri dari data DEM)
  3. Shapefile polygon dari daerah yang di maksud, digunakan sebagai lantai atau dasar dari peta
Mulai tahapan pembuatan peta dengan menjalankan aplikasi ArcScane, panggil ketiga data di atas (semua data di atas harus menggunakan sistem koordinat meter (UTM), jika sudah terlanjur menggunakan sistem koordinat geografis, maka di dalam menu properties pada Scane Layer di dalam TOC, atur sistem koordinatnya menggunakan WGS 1984 World Mercator)
Layer Bandung, Contour, dan Area
Layer Bandung, Contour, dan Area
Dalam bahasan ini, layer image google satelit di beri nama ‘Bandung’, layer kontur di beri nama ‘Contour’, dan layer objek polygon diberi nama ‘area’. Pertama unselect layer bandung dan area, biarkan hanya layer contour saja yang ditampilkan. Aktifkan extension 3D Analyst dengan cara masuk ke menu Customize > Extensions > select pada bagian 3D Analyst. Panggil toolnya ke dalam toolbar dengan cara masuk ke menu Customize > Toolbars > 3D Analyst.
Extension 3D Analyst
Extension 3D Analyst
Layer kontur yang saat ini di tampilkan masih dalam bentuk 2D, maka buat terlebih dahulu kontur 3D dari kontur tersebut, caranya di dalam toolbar 3D Analyst masuk ke menu Feature to 3D (jika tidak tersedia tools tersebut, maka lakukan tahapan berikut : masuk ke menu Customize > Customize Mode > Pada tab Command pilih categories 3D Analyst dan pada bagian commands pilih tool yang akan ditambahkan dengan cara pilih tool yang di maksud kemudian tarik/drag ke dalam toolbar 3D Analyst).
Menambahkan Tool
Menambahkan Tool
Di dalam menu Feature to 3D, input feature isi dengan layer Contour, kemudian Source of Height pilih berdasarkan field attribute dari layer contour tersebut.
Feature to 3D
Feature to 3D
Hasil dari tahap di atas akan terbentuk layer baru yang berisikan objek kontur dalam bentuk 3D, seperti berikut :
Contour 3D
Contour 3D
Selanjutnya buat raster TIN dari layer Contur_3D, caranya masuk ke menu Create TIN From Faature di dalam toolbar 3D Analyst (Jika tidak ada, tambahkan tool tersebut dengan cara yang sama seperti tahapan sebelumnya). Gunakan layer Contour_3D untuk mengisi Height Source dengan Feature Z Value, pada bagian Triangulate as pilih Hard Line, kemudian gunakan layer Area untuk membuat Soft Clip pada bagian Triangulate as, lebih jelasnya perhatikan gambar berikut :
Create TIN from Feature
Create TIN from Feature
Hasilnya akan terbentuk Raster TIN seperti berikut :
Raster TIN
Raster TIN
Berikutnya aktifkan layer Area, kemudian konversi objek area tersebut yang masih berupa objek polygon ke dalam objek line, caranya masuk ke Arctoolbox > Data Management Tools > Features > Feature to Line. Sehingga akan terbentuk layer baru yang berisikan objek line. Dalam tutorial ini layer tersebut di beri nama ‘Extrude’, dalam menu properties dari layer tersebut atur Base Height dengan Elevation from surface mengacu pada Raster TIN. Kemudian di dalam tab Extrusion select pada bagian Extrude Features in Layer dan pilih Using it as a value that features are extruded to pada menu Apply Extrusion. Hasil dari proses tersebut akan membuat line terextrusion berdasarkan ketinggian dari Raster TIN.
Raster TIN dengan Extrude objek lantai
Raster TIN dengan Extrude objek lantai
Dan tahap terakhir, aktifkan layer Bandung kemudian atur Base Height dengan mengacu pada Raster TIN, unselect Raster TIN agar hilang dari tampilan layar, dan hasilnya kurang lebih akan seperti berikut :
Image Satelite dengan extrude objek lantai
Image Google Satelit dengan Extrude objek lantai
Untuk lebih mempercantik tampilan, gunakan image satelite yang lebih jelas serta lebih terlihat perbedaan tinggi dan rendah permukaannya, tambahkan pula objek sungai agar tampilan terlihat lebih nyata. Semoga bermanfaat . . .

Wassalamualikum Wr.Wb

JELAJAHI TATA SURYA DENGAN NASA EYES

Assalamualaikum Wr.Wb

NASA (National Aeronautics and Space Administration)  adalah lembaga pemerintah milik Amerika Serikat yang bertanggung jawab atas program luar angkasa Amerika Serikat dan penelitian umum luar angkasa jangka panjang. Organisasi ini bertanggung jawab atas program penelitian luar angkasa bagi masyarakat sipil, aeronautika, dan program kedirgantaraan.
Nasa Eyes Visualization
Nasa Eyes Visualization
Dan untuk mempermudah publik dalam mengakses informasi yang mereka sampaikan, maka mereka membuat NASA's Eyes aplikasi penjelajah tata surya berbasis web yang dikembangkan oleh NASA Jet Propulsion Laboratory, California Institute of Technology sebuah lembaga penelitian yang di danai pemerintah federal dan NASA. Terdapat 3 jenis visual yang ditampilkan yaitu :
  • Eyes on the Earth : Memvisualisasikan keadaan serta tanda-tanda vital yang berlangsung di bumi seperti tinggi permukaan laut, konsentrasi karbon dioksida di atmosfer dan ozon Antartika. Melacak gerakan air di seluruh dunia menggunakan peta gravitasi dari satelit GRACE milik NASA. Spot letusan gunung berapi dan kebakaran hutan menggunakan karbon monoksida. Memeriksa lokasi terpanas dan terdingin di Bumi dengan map.It, suhu permukaan global juga menampilkan lokasi semua operasi misi Earth-observing NASA secara real time. Aplikasi ini juga tersedia untuk versi mobile Android dan IOS.
Eyes of the Earth
Eyes of the Earth
  • Eyes on the Solar System : Menampilkan interface yang memadukan teknologi video game dan data-data yang dimiliki NASA. Melalui aplikasi ini kita disuguhi berbagai benda angkasa dalam sistem tata surya seperti matahari, planet, satelit, komet, bintang dan asteroid, lebih dari itu kita dapat berpetualang ke berbagai wilayah di ruang angkasa dengan mengikuti misi ruang angkasa yang dilakukan NASA secara real time.
Eyes on the Solar System
Eyes on the Solar System
  • Eyes on Exoplanets : Memungkinkan pengguna untuk memperbesar lebih dari 1000 planet eksotis untuk lebih dekat. Selain menawarkan tampilan virtual ruang di luar tata surya, kita juga dapat membandingkan orbit planet lain dengan yang ada di tata surya kita, menunjukkan planet yang mungkin mendukung kehidupan, dan memberitahu Anda berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan ke setiap sistem planet dengan mobil, pesawat, kereta peluru, atau pesawat ruang angkasa.
Eyes on Exoplanets
Eyes on Exoplanets
NASA selalu melakukan update program setiap hari dengan penemuan-penemuan baru dari misi Kepler dan observatorium berbasis darat, sehingga Anda akan selalu mendapatkan gambaran up-to-date dari alam semesta seperti yang kita kenal. Aplikasi ini dapat dijalankan di Operating System Windows dan OS X. Untuk mengunduhnya dapat langsung mengunjungi link berikut :
Lihat highlight nya di video berikut :

Wassalamualaikum Wr.Wb

MEMBUAT PETA BATIMETRI DARI DATA SRTM PLUS

Assalamualaikum Wr.Wb

Batimetri adalah ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga dimensi lantai samudra atau danau. Sebuah peta batimetri umumnya menampilkan relief lantai atau dataran dengan garis-garis kontur yang disebut kontur kedalaman (depth contours atau isobath), dan dapat memiliki informasi tambahan berupa informasi navigasi permukaan.
Dalam artikel ini, blog INFO-GEOSPASIAL akan menyajikan tutorial cara membuat peta batimetri dari data SRTM PLUS. Data tersebut tersedia di alamat Topex.ucsd.edu. atau bisa langsung menuju link unduhnya di :
Perbedaan dari kedua data di atas adalah resolusi yang ditampilkannya. Untuk SRTM30 memiliki resolusi spasial 30 detik atau 1 kilometer. sedangkan SRTM15 memiliki resolusi spasial 15 detik atau 500 meter. Untuk ukuran file SRTM30 relatif kecil hanya berukuran kurang lebih 50mb. Sedangkan untuk SRTM15 memilki ukuran file yang sangat besar sekitar 13gb lebih, karna mencakupan seluruh dunia dengan resolusi yang lebih bagus dari SRTM30 dan dikemas dalam format .grd. Untuk file SRTM30, wilayah Indonesia bisa di download di file :
- e060n40.Bathymetry.srtm (Sumatra)
- e100n40.Bathymetry.srtm (Jawa, Sumatra, Kalimantar, Sulawesi, Papua)
- e100s10.Bathymetry.srtm (Pulau Sumba, Kupang,NTT)
Dalam tutorial ini, file yang akan digunakan adalah SRTM30. dan akan diolah dengan menggunakan software Global Mapper dan Surfer. Buka file srtm ke dalam Global Mapper. Setelah di panggil maka tampilan di layer editing kurang lebih akan seperti berikut :
SRTM30 PLUS
SRTM30 PLUS
Selanjutnya buat kontur di daerah yang akan dibuat peta batimetrinya, dalam tutorial ini akan dibuat peta batimetri untuk wilayah pantai pangandaran, kab. Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. masuk ke menu Analysis > Generate Contours (from Terrain Grid). Tentukan interval kontur yang akan digunakan.
Contur Options
Contur Options
Kemudian pada Contour Bounds buat daerah yang akan dibuat konturnya dengan masuk ke Draw a Box.
Menentukan area yang akan dibuat konturnya
Menentukan Area Yang Akan Dibuat Konturnya
Klik ok, untuk memulai pembuatan kontur. Setelah selesai maka hasilnya akan seperti berikut :
Kontur Batimetri Pangandaran
Kontur Batimetri Pangandaran
Selanjutnya save kontur ke dalam format Surfer .bln dengan cara masuk ke menu File > Export > Export Vector/Lidar Format. Pilih Surfer BLN.
Export to Surfer BLN
Export to Surfer BLN
Di dalam software Surfer, buat Plot Baru, kemudian masuk ke menu Grid > Data. Pilih file kontur yang sebelumnya sudah di konversi ke format BLN. Tentukan field X, Y, dan Z dari data tersebut, lalu tentukan metode gridding yang akan digunakna, Sebagai contoh gunakan saja metode Kriging.
Griding Kontur
Griding Kontur
Klik ok, maka akan terbentuk file baru dengan extension .grd. panggil file tersebut dengan cara masuk ke menu Map > New > Contour Map.
Kontur Batimetri Pangandaran
Kontur Batimetri Pangandaran
Sebelumnya atur terlebih dahulu ukuran kertas yang digunakan dengan cara masuk ke menu File > Page Setup. Atur tampilan peta pada bagian properties di setiap layer yang ada di Object Manager. Sehingga hasil akhirnya kurang lebih seperti berikut :
Peta Batimetri Pantai Pangandaran
Peta Batimetri Pantai Pangandaran
Tahapan di atas dapat di lihat juga pada video berikut :
Sekian artikel ini, semoga bermanfaat. Baca juga artikel terkait pengolahan data batimetri berikut :

Wassalamualaikum Wr.Wb

MEMBUAT PENAMPANG MELINTANG DI ARCGIS

Assalamualaikum Wr.Wb

Penampang melintang (Cross-Section) merupakan gambaran dari bentuk muka bumi secara melintang baik di daratan atau pun di dasar laut. Penampang melintang memberikan gambaran secara jelas mengenai bentuk dan ketinggian atau pun kedalaman dari suatu tempat di bumi. Dan berikut ini akan dijelaskan cara pembuatan penampang melintang dari data DEM (Digital Elevation Model) dengan menggunakan software ArcGIS.
Sebelum memulai pembuatan penampang, pastikan sistem projeksi yang digunakan adalah UTM, jika menggunakan sistem projeksi lain, silahkan ubah terlebih dahulu ke UTM dengan cara klik kanan pada layer utama > Properties > Coordinate System. pilih zona UTM dari daerah yang akan dibuat penampang nya. Atau jika area yang diolah memiliki dua zona atau lebih maka gunakan sistem projeksi WGS 1984 World Mercator yang dapat ditemukan di Projection Coordinate System > World. (Tidak perlu merubah sistem projeksi dari layer SHP, cukup sistem projeksi dari layer utama di dalam ArcMAP)
Siapkan sebuah raster yang berisikan informasi ketinggian dari suatu daerah, di sini digunakan data DEM hasil konversi dari data kontur (arctoolbox > 3d Analys Tools > Raster Interpolation > Topo to Raster).
DEM hasil konversi dari Kontur
DEM hasil konversi dari Kontur
Munculkan tools 3d Analyst dengan cara masuk ke menu Customize > Select 3d Analyst. Pada pilihan option di dalam tools tersebut, tentukan tempat penyimpanan hasil pembuatan cross section. 
Penentuan lokasi penyimpanan Pofile Graph
Penentuan lokasi penyimpanan Pofile Graph
Tentukan metode interpolasi yang akan digunakan, dalam contoh ini digunakan metode linear.
Menentukan Metode Interpolasi
Menentukan Metode Interpolasi
Buat sebuah garis melintang pada area yang akan dibuat penampang nya dengan menggunakan tools Interpolate Line.
Pembuatan garis penampang melintang dengan tools Interpolate Line
Pembuatan garis penampang melintang dengan tools Interpolate Line
Untuk melihat gambaran sekilas dari area yang dilewati oleh garis Interpolate Line dapat mengaktifkan tools Profile Graph.
Penampang
Penampang
Hasil dari proses diatas akan menciptakan SHP baru yang tersimpan di dalam directory yang sebelumnya telah ditentukan pada option 3d Analyst. File SHP akan bernama PG (Profile Grapth) yang berisikan objek point. Panggil file tersebut ke dalam ArcMAP. Klik kanan pada nama layer tersebut > Open Attribute Table. Maka akan muncul keterangan yang berisikan field M (menunjukan letak koordinat X dalam satuan meter UTM) dan field Z (berisikan nilai ketinggian dari setiap point yang mendefinisikan nilai ketinggian dari DEM).
Data Attribut
Data Attribut
Block seluruh isi field kemudian copy ke dalam program Ms.Excel atau text editor lain. Edit dan hapus field lainnya kecuali field M dan Z.
Data Attribut M dan Z di Ms.Excel
Data Attribut M dan Z di Ms.Excel
Save dalam format excel. Di dalam ArcMAP pilih menu file > Add Data > Add XY Data. Panggil file excel tersebut dengan X Field di isi dengan field M dan Y Field di isi dengan field Z. dan pastikan sistem projeksinya menggunakan UTM.
Add Data XY
Add Data XY
Maka akan muncul layer baru dengan objek point yang menunjukan ketinggian dari area penampang.
Penampang Melintang Point
Penampang Melintang Point
Konversi layer tersebut ke dalam SHP dengan cara klik kanan > Data > Export Data.
Konversi data ke SHP
Konversi data ke SHP
Setelah dikonversi menjadi SHP, konversi kembali file SHP tersebut ke dalam bentuk Line dengan cara masuk arctoolbox > Data Management Tools > Features > Points To Line.
Point to Line
Point to Line
Tahap selanjutnya adalah membuat grid untuk penampang tersebut di dalam layout view. Pindah ke layout view, klik kanan pada frame yang berisikan line penampang, pilih properies > grids > New Grid > Measured Grid. Pada Appearance pilih Label Only.
Setelah grid berhasil di buat, masuk ke properties grid tersebut, atur tampilan grid menjadi seperti berikut :
Pengaturan Label Grid
Pengaturan Label Grid
Hilangkan label pada bagian top, label style Formatted dengan aditional Properties > number of Significan Digits. isi dengan nilai 4 (atau bisa di sesuaikan).
Penentuan Axis Grid
Penentuan Axis Grid
Unselect Major Divition Ticks pada pilihan Top. Klik Ok. Dan hasil akhirnya kurang lebih akan seperti berikut :
Penampang Melintang dengan Grid
Penampang Melintang dengan Grid
Tahapan di atas dapat di lihat juga di dalam video berikut :
Semoga Bermanfaat . . .

Wassalamualaikum Wr.Wb